Ketukan di Tanggal Tua

Toktoktok!!! Toktoktok!! Toktoktok! Tidak ada yang membuka pintu. Gorden menutup jendela. Hening sekali. Mungkin Tante Santi sedang keluar. Tapi motornya terparkir. Mungkin Tante Santi sedang tidur. Mungkin semalam ia juga menyaksikan pertandingan sepak bola yang mempertemukan Barcelona dengan Dortmund dalam babak delapan besar Liga Champions. 

Jika aku tidak dibangunkan mama untuk mengantar toples-toples yang ia pinjam dari Tante Santi beberapa waktu lalu, mungkin aku baru bangun siang atau sore nanti. Soalnya aku baru tidur pukul 5 tadi, karena semalaman main hp dilanjutkan dengan nonton bola. Ya sudah. Aku pulang saja dulu. Nanti saja baru aku kembali. Mungkin nanti sore karena aku mau lanjut tidur lagi

***

Toktoktok!!! Toktoktok!! Toktoktok! Ada yang mengetuk pintu. Tidak ada suara. Untungnya aku belum membuka semua jendela. Jendela masih aman tertutup gorden. Ia akan berpikir kalau aku tidak ada di rumah, jadi ia akan pergi dan mencari waktu lain untuk kembali. Semoga saja ia kembali pada waktu yang tepat.

Aduh! Motorku terparkir di luar. Ia pasti berpikir aku ada di dalam. Tapi kalau aku tetap diam, setidaknya ia berpikir aku masih tidur dan menungguku bangun sama saja dengan membuang waktu. Mungkin juga ia tetap berpikir aku sedang bepergian dan motorku ditinggal di rumah. 

Dasar penagih utang. Datang nagih kok di tanggal tua? Aku kan belum gajian. Ini juga hari libur. Memangnya dia tidak libur?

***

Toktoktok!!! Toktoktok!! Toktoktok! Pintu dibuka. Syukurlah ada orangnya. 

“Tante, ini aku kembalikan toples-toples yang mama pinjam kemarin,” kataku. 

“Tadi pagi aku ketuk-ketuk, tapi mungkin Tante masih tidur. Jadi, sore ini baru kuantar.”

Tante Santi tertawa dan membuatku heran. 

“Terima kasih, ya Ano. Maaf, Tante lupa kalau utang Tante ternyata sudah Tante bayar Minggu lalu.” 

Tante Hana masih tertawa dan aku tambah heran. 

Utang apa?


Komentar