Bendi diam di hadapan cermin. Matanya menatap kaos berkerah hitam yang ia pakai. Ia tertegun memandang kancing baju pada kaos berkerah itu. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Sejak kapan aku mulai mengancing kerah?” Ada senyum kecil pada bibirnya.
Ia ingat ketika kecil ia tidak suka kalau baju yang ada kancingnya, dikancing sampai kerah. Ia merasa culun. Pandangan itu ia dapat dari sinetron yang tokohnya memiliki keterbelakangan mental dan sering berpakaian seperti itu. Kalaupun harus mengancing kerah, harus dilengkapi dasi seperti seragam sekolah.
Bendi pernah menanyai Ibunya arti dari kata culun. Ibunya bilang kalau culun itu berarti kecil, lugu, tidak berpengalaman. “Kamu ‘kan masih kecil, jadi sah-sah saja kalau ada yang bilang kamu culun,” kata ibunya. Tapi Bendi salah tangkap. Baginya culun sama dengan tidak keren. Dia tidak suka dipandang tidak keren.
Setelah dewasa ia sadar bahwa mengancing kerah baju bukan masalah besar. Itu bisa membuatnya terlihat lebih rapi, juga keren. Dia sekarang berprinsip bahwa tidak mengancing kerah baju adalah karena gerah atau mungkin mencekik leher, bukan karena tidak mau dibilang culun atau tidak keren.
Waktu menatap cermin sudah cukup. Sudah saatnya ia pergi ke gereja. Sebab ia harus mengikuti misa arwah Paus Fransiskus. Ia mengingat lagi arti kata culun yang pernah disampaikan ibunya. Dalam hati ia berkata, "Mungkin Paus Fransiskus yang dikenal sederhana adalah Paus yang culun. Dan oleh karena itulah Paus Fransiskus keren."

Komentar
Posting Komentar