Piala-Piala—Puisi Tentang Penyangkalan Diri

Dokumentasi Pribadi



Ketika debu-debu beterbangan,

kau tidak melihat namamu

di antara piala-piala itu?

Milik siapakah?


Tapi kau merapal doa

pada malam sebelumnya

untuk mengebaskan debu

pada piala-piala itu.


Apakah mati raga atau silih dosa,

kau lupa namanya. 

Ini seperti denda

atas kenyamananmu yang tak bekerja.

Segala sesuatu yang ada di rumah

adalah milikmu jua.


Kau bernama penyangkalan diri

sebab kau tidak diwajibkan

memiliki.


Bahkan yang memiliki piala-piala

sudah belajar melepaskan.


Tidakkah kau ikut juga?


Komentar