Ibu-Ibu Yang Minta Istirahat

Ketika kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik bagi orang lain dan orang itu tidak menghargai usahamu, rasa kecewa dan marah pasti membuncah di dalam dada. Itulah yang terjadi pada saya di suatu malam sehabis doa rosario.

Ceritanya kami umat lingkungan St. Markus, Paroki St. Theresia Sangatta mendapat tugas koor pada hari Minggu Paskah V, 18 Mei lalu. Maka sejak dua minggu sebelumnya, kami sepakat untuk latihan koor setiap selesai doa rosario. Tentu saja semuanya berjalan dengan lancar, meski ibu-ibu yang sering sulit ditenangkan (baca: banyak ngobrol) membuat latihan sedikit alot. 

Ada dua kali kami libur latihan. Yang pertama karena hari Sabtu. Doa rosario di lingkungan St. Markus biasa mulai pukul 19.30. Tapi khusus malam minggu, doa rosario dimulai pukul 20.00, karena mempertimbangkan umat St. Markus yang ikut misa Sabtu sore. Jika ditambah dengan latihan koor lagi setelah doa rosario, maka bisa-bisa pulangnya kemalaman.

Libur latihan yang kedua terjadi pada hari Senin setelahnya. Itu dikarenakan ada ibadat 40 hari mengenang saudara dari seorang umat St. Markus yang telah berpulang. Tentu saja rasanya kurang pas kalau mau latihan koor setelah ibadat itu.

Maka setelah dua kesempatan libur itu, saya sebagai pelatih koor mengupayakan agar hari-hari yang tersisa bisa digunakan untuk latihan secara intensif—mengingat hari H semakin dekat.

Tapi kenyataan tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Setelah kami melanjutkan latihan koor pada hari Selasa, eh di hari Rabu kami harus libur lagi dengan terpaksa. Mengapa terpaksa? Karena sebagian ibu-ibu St. Markus minta istirahat. Mereka lelah.

Kenapa lelah? Padahal baru malam sebelumnya kami mulai latihan lagi. Kini ketika tinggal 4 hari lagi untuk melaksanakan tugas itu, latihan harus ditunda kembali. Padahal lagu-lagu yang akan dinyanyikan belum begitu dikuasai.

Saya marah karena teks-teks lagu sudah saya bawa, sudah pula saya bagi kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di luar. Mereka sudah siap untuk latihan. Tapi ibu-ibu dari dalam rumah malah tidak siap. Lelah katanya. Istirahat dulu katanya. Huh...

Sampai pulang ke rumah saya masih marah. Tidak terima kalau latihan koor dibatalkan secara sepihak. Kalau mau istirahat, harusnya disampaikan lebih awal biar saya tidak bawa teks-teks lagu itu. Mereka tidak tahu betapa lelahnya saya mengumpulkan lagu-lagu itu, memfotokopi dan menstaplesnya. Apa mereka pikir saya senang melatih koor dan suka menyiksa mereka dengan latihan koor itu?

Saya sungguh sangat marah (sudah sungguh, sangat lagi). Saya berniat tidak akan ikut doa rosario keesokan harinya. Atau saya tetap datang doa rosario tapi tidak membawa teks-teks lagu itu. Biar saja langsung nyanyi di hari Minggu. Tidak perlu ada latihan-latihan lagi. Biar sama-sama tidak lelah.

Padahal kalau selama ini mereka latihan dengan serius, latihan koor tidak akan begitu melelahkan. Ketika lebih banyak waktu yang terbuang untuk ngobrol daripada nyanyinya, maka sudah pastilah latihan itu akan terasa lebih melelahkan.

Tapi ternyata kemarahan saya tidak bisa abadi. Semakin larut malam, semakin saya lelah untuk marah. Seiring dengan hati yang mulai tenang, saya teringat keluhan saya sendiri di pagi hari sebelum tragedi malam itu terjadi. 

Saya mengeluh bahwa saya lelah melatih koor. Kemudian ketika Tuhan Yang Maha Pengertian menanggapi keluhan saya lewat ibu-ibu yang minta istirahat itu, saya malah marah-marah. Duh...

Komentar