Kumpulan Puisi—Misa Pembukaan Bulan Maria

Bunda Maria Menggendong Bayi Yesus


Misa Pembukaan Bulan Maria

#1.

Di halaman gereja ini aku 
tidak menunggu siapapun. 
Segenap keberanianku luruh 
begitu saja karena gereja 
yang masih lengang. 

Apakah orang-orang mabuk 
tanggal merah? Pukul 18.00 
jaraknya setengah jam lagi. 
Tapi gereja masih lengang 
dan malah aku yang 
tak tenang. 

Tidak mungkin 
aku pulang dan membiarkan 
Bunda menantikan diriku 
yang hilang.


#2.

Orang-orang suka datang 
di waktu yang sempit. 
Menantang waktu berhenti 
demi menunggu mereka. 

Bunda berdiri tenang 
di dalam gua. Memandang 
resah anak-anaknya yang 
terlambat tanpa rasa bersalah. 

Sejak anak kecil itu 
mendaraskan rosario, Bunda 
Maria menarik semua yang 
datang kepada Tuhan.


#3.

Pada akhirnya banyak 
yang datang. Bunda 
menimang kami dalam 
satu dekapan. 

Diceritakannya kisah 
epik tentang kesetiaan 
dan kami dikancing 
sampai berkat penutup, 

meski Pastor masih menambah 
homilinya di penghujung misa.



Ketika Bunda Maria Membantu Saya

Maka biarkan saya 
selaku anak Bunda 
Maria memimpin ibadat 
rosario dengan sederhana. 

Dengan singkat, padat, 
dan jelas. Tapi 
Bunda Maria mengirim 
yang lain untuk 
membantu saya dan 
saya tidak akan 
membantahnya.



Percakapan tentang Meninggalkan Bunda

Dalam percakapan yang 
bisik-bisik itu disadari 
bahwa kadang-kadang 
orang memilih 
meninggalkan Bundanya 
tanpa maksud yang jelas. 

Karena cintakah? Padahal Bunda 
adalah definisi cinta. 

Karena kedamaiankah? Padahal 
dekapan Bunda adalah dekapan 
paling menenangkan. 

Karena putus asa? Padahal Bunda 
punya persediaan harapan yang 
tak pernah berkesudahan. 

Kadang-kadang karena karena-karena 
itulah, kita tinggalkan Bunda .

Komentar