Saya pernah peringkat 1 di masa sekolah. Itu satu-satunya peringkat 1 yang saya raih selama masa sekolah. Saya meraihnya di semester pertama kelas 9. Saya bahagia karena bisa membanggakan mama saya, bukan bahagia karena bisa mengungguli semua teman kelas. Saya sudah biasa dengan peringkat 10 besar, bahkan 5 besar. Itu sudah cukup buat orang-orang mengenal saya sebagai "anak pintar".
Tapi peringkat 1 itu; prestasi itu; kepintaran akademis itu berdampak apa terhadap kehidupan saya sekarang? Pertanyaan ini saya temukan di media sosial beberapa waktu lalu. Tentu saja pertanyaan itu bukan ditujukan personal buat saya. Bunyi pertanyaannya kira-kira begini: "Yang dulu peringkat 1 sekarang jadi apa?"
Pertanyaan itu saya kira dilontarkan oleh orang-orang yang dulunya kurang berprestasi di sekolah, tidak pernah menjadi juara kelas di sekolah, tapi sekarang hidupnya mapan; jadi pengusaha sukses; punya pekerjaan bagus; jadi orang penting.
Pertanyaan itu sungguh mengena di hati saya karena prestasi yang pernah saya raih itu nampaknya tidak berdampak signifikan bagi hidup saya. Saya masih pengangguran ketika saya menulis artikel ini; sulit mendapatkan pekerjaan; diungguli oleh teman-teman yang pernah saya ungguli.
Tapi apakah memang begitu—mereka yang di sekolah, atau di sebuah kompetisi atau audisi jadi juara satu, malah akan kalah unggul dengan mereka yang dulunya kurang berprestasi? Saya jadi teringat ajang Indonesian Idol yang mana para juara satunya sering kalah tenar dengan yang juara dua ataupun yang tereliminasi duluan.
Sebenarnya, kalau mau dilihat lebih jauh tidak sepenuhnya begitu. Banyak juga mereka yang dulunya berprestasi di sekolah tetap menjadi pribadi yang unggul dalam kehidupan yang sekarang. Bukan berarti karena saya sekarang berada di masa sulit—yang sebenarnya karena ulah saya sendiri yang kurang kerja keras, malas-malasan, gengsian—itu menjadikan peringkat-peringkat yang pernah saya raih di sekolah jadi tidak ada artinya.
Tentu saja prestasi-prestasi itu tetap berguna dalam perkara-perkara kecil kehidupan saya. Saat ngobrol dengan orang lain, bersih-bersih rumah, mencuci piring, mengikuti kegiatan gereja, yang tadi saya sebut sebagai "kepintaran akademis" bermanifestasi secara otomatis.
Jadi buat para pembaca, kita tidak boleh takut untuk menjadi nomor 1. Biarlah cita-cita menjadi nomor 1 menjadi pelecut bagi kita untuk berjuang dalam hidup, meski nantinya kita tidak menjadi nomor 1 itu. Kita boleh menjadi biasa-biasa saja hanya setelah kita berjuang habis-habisan dalam hidup ini. Sebelum berjuang habis-habisan, kita sebaiknya tidak hidup biasa-biasa saja.
Salam.
Komentar
Posting Komentar